Tafsir: Padahal Allah Menciptakan Kalian dan Apa Yang Kalian Kerjakan

Hizbut Tahrir-HT-

Syaikh Atha’ Abur Rasytah ditanya mengenai arti huruf maa dalam ayat yang mulia, surat Ash Shoffat ayat 96:

{وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ} [الصافات: 96]

apakah maa tersebut merupakan maa mashdariyah ataukah maa maushulah. Pertanyaan ini punya implikasi yang penting, karena perbedaan dalam memahami kata maa dalam ayat tersebut akan memberikan konsekuensi pemahaman yang berbeda.

Misalnya, kita akan memahami sebuah kalimat yang berbunyi: “uhibbu maa taktubu” (أحبّ ما تكتب). Jika maa di situ dianggap mashdariyah, maka kalimat itu berarti “aku menyukai penulisanmu“, sebab maa di situ berfungsi mengubah kata kerja taktubu (menulis) menjadi kata benda dari pekerjaan itu (mashdar/gerund), yakni menjadi penulisan (كتابة). Tapi jika maa di sana dianggap maa maushulah, maka maknanya adalah “apa yang“, sehingga pemahaman terhadap kalimat itu menjadi “aku menyukai apa yang kamu tulis“, jadi posisi maa dalam kalimat ini terkait dengan objek (maf’ul) dari kata kerja taktubu yang ada di belakangnya.

Demikian juga dengan kalimat dalam ayat yang sedang kita bahas kali ini. Jika maa di depan kata kerja ta’maluun  (artinya: kalian melakukan) itu dianggap maa mashdariyah maka maa ta’malun di sana berarti ‘amalakum (perbuatan kalian). Maka ayat itu berarti: “padahal Allah menciptakan kalian dan perbuatan kalian“. Tapi jika dianggap maushulah, maka maa ta’malun berarti apa-apa yang menjadi objek perbuatan kalian (ma’muul). Sehingga ayat itu diartikan menjadi “padahal Allah menciptakan kalian dan apa yang menjadi objek dari perbuatan kalian (ma’muul)”. Maka dari sini muncullah perselisihan pendapat di kalangan ulama tentang pengertian ayat tersebut.

Menurut Syaikh Atha’, pendapat kedualah yang benar, sebab pendapat ini sesuai dengan konteks pembicaraan. Rangkaian ayat berbicara tentang kritik Ibrahim as terhadap perbuatan kaumnya yang beribadah kepada berhala. Jadi perbuatan atau amal yang dibahas dalam ayat ini tidak lain adalah amal perbuatan menyembah berhala. Maka, wallahu khalaqakum wa maa ta’maluun artinya adalah wallahu khalaqakum wa maa ta’buduun (padahal Allah menciptakan kalian beserta apa yang kalian sembah), yakni berhala-berhala yang berbahan dasar batu itu.

Syaikh Atha’ Abur Rasytah hafidhahullah mengatakan:

“… Adapun mengenai tafsir ayat “{وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ} [الصافات: 96]“, maka sesunggunya huruf “maa” adalah maushulah. Artinya, bahwa Allah Subhanahu menciptakan kalian dan menciptakan berhala-berhala yang kalian sembah. Teks ayat memberi petunjuk kepada hal tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

{فَرَاغَ إِلَى آلِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ (91) مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَ (92) فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ (93) فَأَقْبَلُوا إِلَيْهِ يَزِفُّونَ (94) قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ (95) وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ (96)} [الصافات: 91 – 96]

“Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kalian tidak makan? Kenapa kalian tidak menjawab?” Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata: “Apakah kalian menyembah apa-apa yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu.“

Jadi Jelas bahwa ayat “Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu” datang setelah ayat “Apakah kamu menyembah apa-apa yang kamu pahat itu?“. Maka, pembicaraannya adalah tentang berhala.

Akan halnya mereka yang menafsirkan “maa” dalam arti mashdariyyah, mereka memahami ayat itu dengan arti, “Allah menciptakan kalian berikut amal perbuatan kalian“, sehingga mereka punya pemahaman bahwa Allah menciptakan perbuatan manusia. Seandainya saja mereka berhenti pada masalah penciptaan, dalam arti bahwa Allah menciptakan manusia dan menciptakan perbuatan mereka, dalam arti bahwa Allah menciptakan kemampuan pada diri manusia untuk melakukan perbuatan, niscaya mereka tidak melenceng jauh. Namun, masalahnya mereka menafsirkan “padahal Allah menciptakan kalian beserta perbuatan kalian” dalam arti “Allah memaksa kalian untuk melaksanakannya“, yaitu Allah memaksa kita untuk melakukan seluruh perbuatan kita, dengan demikian kita tidak memiliki pilihan dalam melaksanakan perbuatan apa pun, entah itu perbuatan baik maupun buruk. Ini tentu saja merupakan pemahaman yang keliru, karena dalam kenyataannya ada perbuatan-perbuatan yang bersifat pilihan bagi manusia, sehingga manusia diberi pahala atau diberi hukuman atas perbuatan-perbuatan tersebut. Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa Allah Subhanah memaksa kita untuk melaksanakan segala macam perbuatan kita tanpa ada pilihan bagi kita adalah pendapat yang keliru. Allah berfirman (Maka siapa yang melaksanakan kebaikan (meski) seberat dzarrah (pun) kelak dia akan melihatnya, dan siapa yang melaksanakan keburukan (meski) seberat dzarrah (pun)  kelak dia akan melihatnya)…” Selesai

Sumber: http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_29440

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s